Dahsyatnya Sabar, Syukur, dan Ikhlas
Semua orang pasti mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan. Namun, pada kenyataannya tidak semua orang bisa menggapai hidup sukses dan bahagia. Hal ini dikarenakan banyak orang yang salah dalam menempuh jalan menuju hidup sukses dan bahagia tersebut.
Buku Dahsyatnya Sabar, Syukur, & Ikhlas ini berusaha mengungkap tiga kunci utama untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Tiga kunci tersebut adalah sabar, syukur, dan ikhlas. Bersyukur, bersabar, dan ikhlas merupakan salah satu di antara sekian banyak kunci keberhasilan hidup orang beriman, baik di dunia maupun di akhirat.
Syukur dan sabar merupakan dua kata yang akan selalu berjalan mengikuti rumus kehidupan. Ia adalah kunci kebahagiaan. Karena setiap insan di bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. Tak ada manusia yang hidupnya selalu suka, senang dan nyaman. Pasti di tengah-tengah kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka ada ujian dan cobaan. Di sinilah rasa syukur dan sabar yang diiringi dengan ketulusan sangat diperlukan. Syukur ada untuk mengiringi kesenangan. Demikian juga sabar hadir untuk mengimbangi ujian dan cobaan.
Syukur yang dimaksud di sini bukan hanya dengan mengucapkan alhamdulillah. Tapi lebih kepada bagaimana memanfaatkan kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah SWT untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Demikian halnya dengan sabar, yang maknanya tidak hanya berdiam diri dan tidak berusaha untuk keluar dari ujian dan cobaan yang menimpa. Tapi, sabar bermakna menerima apa yang telah ditimpakan kepada seseorang seperti musibah, dengan catatan tetap berusaha untuk senantiasa bangkit dan menyelesaikan persoalan yang ada.
Buku ini juga menghadirkan beberapa kisah orang-orang sukses dan bahagia karena kesyukuran dan kesabarannya. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan kita bahwa syukur dan sabar benar-benar mampu mengantarkan seseorang menuju kebagagiaan dan kesuksesan. Salah satunya adalah kisah sejarah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam mendakwakan Islam di tengah-tengah kerasnya masyarakat Quraisy di jazirah Arab. Meskipun tantangan, ancaman, pengusiran, bahkan percobaan pembunuhan, sudah berkali-kali dirasakannya ketika berdakwah selama 13 tahun di Makkah, akhirnya Allah SWT memenangkan Islam karena buah kesabaran dan keikhlasan beliau serta para sahabatnya dalam berdakwah (halaman 19).
Imam Ahmad bin Hambal pernah mengatakan bahwa di dalam surga hanya ada dua kelompok manusia, yaitu manusia yang bersyukur dan manusia yang bersabar (halaman 18). Untuk itulah, Imam ahmad juga menegaskan bahwa di dalam al-Quran kata sabar disebutkan lebih dari 90 kali. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab, orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi takdir Allah SWT yang buruk, maka ia banyak kehilangan bagian keimanan (halaman 21).
Agar senantiasa mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup, tentunya rasa syukur dan sabar tersebut harus benar-benar dilakukan dengan penuh ikhlas. Ikhlas merupakan kolaborasi ketundukan pada hati dan pikiran yang disemayamkan di alam bawah sadar seseorang, serta dijelmakan dalam perkataan dan amal perbuatan. Pada hakikatnya, ikhlas itu mencakup dua hal, yakni menyertakan niat dan membebaskan diri dari segala bentuk noda (halaman 143).
Orang yang ikhlas akan senantiasa merasa tentram, penuh kedamaian, dadanya penuh kelapangan, dan hatinya merasa tenang. Sebab, ia selalu didorong untuk memurnikan segala amalnya dengan tujuan untuk menggapai ridha Allah SWT. Dengan demikian, ikhlas merupakan kunci pertama pembuka kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Sebagai bukti, kisah orang-orang yang terjebak dalam gua. Saat itu, mereka memhon dengan cara ber-tawassul atas beberapa amalan yang dilakukan dengan ikhlas berupa birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua), wafa’terhadap pegawai, dan pengendalian syahwat yang luar biasa. Ternyata mereka bisa sukses dan berhasil keluar dari gua tersebut berkat keikhlasan (halaman 135).
Kisah keikhlasan lain yang patut kita teladani adalah keikhlasan Khalid bin Walid sebagai komandan perang. Saat menjelang perang Yarmuk, ia mendapat surat dari Khalifah Umar bin Khattab, yang berisikan tentang pencopotan jabatan panglima perang yang sedang disandangnya, dan digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah, yang tidak lain adalah bawahan Khalid bin Walid.
Khalid bin Walid menerima pencopotan tersebut dengan penuh kesatria dan keikhlasan. Bahkan, sedikitpun tidak terlihat rasa kecewa dan emosi pada wajahnya. Saat itu, ia berkata, “aku tidak berperang untuk Umar. Tetapi, aku berperang untuk Tuhannya Umar”. Beberapa saat kemudian, Khalid bin Walid mendatangi Abu Ubaidah untuk menyerahkan kendali kepemimpinannya. Uniknya, di bawah komando mantan anak buahnya tersebut, Khalid tetap berperang dengan penuh semangat dan kesungguhan (halaman 164).
Pada intinya, buku setebal 188 halaman ini mengajak kita semua untuk menggapai kesuksesan dan kebahagiaan dengan syukur, sabar, dan ikhlas. Karena ketiganya merupakan kunci kesuksesan dan kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia dan di akhirat. Untuk itu, bagi kita yang menginginkan kesuksesan dan kebahagian, maka buku ini menjadi salah satu bahan bacaan penting untuk ditelaah dan diamalkan isinya.






0 comments:
Posting Komentar